Minggu, 17 Januari 2016

Stres Berkepanjangan Akibat Patah Hati Berdampak Fatal

Hampir setiap orang pernah mengalami peristiwa yang menyebabkan sakit hati entah karena kehilangan orang yang dicintai, perceraian, putus hubungan, atau pun penolakan cinta. Bagi orang-orang yang mengalami patah hati, hidup terasa begitu berat dan menjadi tak bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Bahkan ada yang mengalami stress akibat ditinggal orang terkasih. Beberapa orang tidak sanggup menghadapinya dan mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya.

Tak banyak yang mengetahui bahwa sakit hati yang berkepanjangan dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Dampak terburuknya adalah kematian. Seringkali orang yang mengalami sakit hati merasakan stress. Stress yang berkepanjangan ini dapat menyebabkan suatu penyakit yang disebut "Broken heart Syndrome" atau sindrom patah hati.

Sindrom patah hati adalah gangguan pada jantung bersifat sementara yang muncul ketika penderita dihadapkan atau diingatkan pada situasi yang membuatnya merasa tertekan atau stress seperti kematian orang tercinta atau putusnya suatu hubungan. Gejala sindrom patah hati mirip dengan serangan jantung. Penderita mengalami nyeri dada, sesak napas, detak jantung yang tidak beraturan, dan sekujur tubuh terasa lemas seperti kelelahan. Untuk mengobatinya, biasanya dokter akan memberikan obat untuk gangguan jantung.

Tak hanya sindrom patah hati, stress yang diakibatkan oleh sakit hati yang berkepanjangan juga mempengaruhi kondisi tubuh kita yang lain. Berikut adalah dampak negatif patah hati terhadap kondisi tubuh manusia :

• Naiknya asam lambung - Saat mengalami patah hati seringkali kita mengalami gangguan emosi seperti stress yang menjadi salah satu penyebab naiknya produksi asam lambung yang sering menjadi penyakit maag atau gangguan lambung lainnya.

• Otak - Ketika manusia mengalami stress, ada bagian otak yang bernama Secondary Somatosencory Cortex akan teraktivasi. Secondary Somatosencory Cortex merupakan pusat rasa nyeri sehingga menyebabkan orang yang mengalami stress akibat patah hati akan mengalami gejala ketidaknyamanan, pegal, letih akibat respon dari otak tersebut.

• Sistem kekebalan tubuh melemah - Melemahnya sistem imun atau sistem kekebalan tubuh salah satunya disebabkan karena pola hidup yang melelahkan dan kurang tidur. 2 hal tersebut merupakan hal-hal yang sering dialami oleh orang-orang yang patah hati sehingga sistem kekebalan tubuhnya menurun.
• Kerontokan rambut - Stress, frustasi, atau kecemasan berlebihan dapat menyebabkan kerontokan pada rambut. Semakin tinggi tingkat stress yang dialami, semakin banyak pula jumlah kerontokan pada rambut.

Seringkali kita menyangkal bahwa kita mengalami stress atau pun depresi akibat patah hati. Namun jika kita mengalami gejala seperti mudah tersinggung, tidak fokus dalam waktu cukup lama, gelisah, sedih, mood berubah-ubah merupakan gejala-gejala stress. Stress yang berkepanjangan tak hanya menyebabkan sindrom patah hati, gangguan pada otak, lambung, sistem imun, dan rambut saja namun juga dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan stroke, serta kanker.

Saat manusia mengalami stress, hormon kortisol akan meningkat. Hormon-hormon ini meningkatkan kerja jantung, bernafas lebih cepat, dan tekanan darah sehingga dapat menyebabkan tekanan darah meningkat atau disebut tekanan darah tinggi. Peningkatan tekanan darah disebabkan oleh terlalu banyak hormon kortisol sehingga tubuh menahan sodium (garam) di dalam darah. Peningkatan kadar kortisol secara kronis akan menyebabkan gangguan fungsi kekebalan tubuh, dan berbagai macam penyakit lainnya.

Risiko mengalami serangan jantung 21 kali lebih tinggi dalam 24 jam pada mereka yang ditinggal pasangannya karena kematian. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Harvard pada tahun 2012. Sulit tidur, tubuh dipaksa berpikir keras, depresi membuat tekanan darah meningkat, denyut jantung lebih cepat, darah juga tidak mengalir dengan lancar. Belum lagi konsumsi obat penenang tanpa resep atau minuman beralkohol membuat keadaan semakin parah. Serangan stroke bisa muncul kapan saja.

Ternyata bukan hanya makan dan minuman tidak sehat yang bisa menyebabkan kanker. Pikiran yang stres, perasaan buruk, serta emosi yang tidak stabil dalam waktu yang lama justru lebih mudah memicu munculnya mutasi gen. Kanker adalah pertumbuhan sel-sel secara abnormal. Sel kanker menyerang jaringan dan organ tubuh yang sehat. Stress yang akut akan meningkatkan level hormon kortisol hingga maksimal. Hal ini membuat sistem imunitas tubuh melemah sehingga sel yang rusak tak mengalami perbaikan, justru menjadi berbahaya dan dapat menjadi sel kanker.

Tak banyak orang mengetahui dampak berbahaya yang ditimbulkan akibat patah hati dan stress berkepanjangan. Wajar saja bila setelah kita kehilangan orang yang kita cintai, kita menjadi bersedih, murung, dan stress. Namun jika stress terjadi berkepanjangan justru berakibat fatal pada tubuh kita.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar