PoV han yoo ra
Hari hari yang selalu dilewati
bersama hansol selalu tersimpan di memori otakku. Menjadi kenangan sendiri
untuk waktu cukup lama dan sering dihabiskan bersama serasa dunia milik kita
berdua.
Hansol adalah sosok pelindung
bagiku, dia adalah pria yang selalu membuatku tersenyum, membuatku bahagia
namun terkadang dia juga membuatku cemburu buta karna fans girlnya yang sering
bersorak pada hansol saat dia sedang bertanding basket. Pasalnya hansol adalah
pemain basket tampan dan pintar.
"Hansoooollll.. Hansooooolll
aku padaamuuu". Sorak fans girl.
"Hansooooollll ... Over
terus lempaarr .. Go hansoooll". Sorak fans lain.
Aku duduk di ujung bangku
penonton dan hanya berpangku dengan kedua tangan. Hansol yang melambaikan
tangannya padaku dan tersenyum manis ke arahku.
aku hanya membalasnya dengan
senyuman karna aku tahu fans hansol jika mengetahui aku membalas hal yang sama
pada hansol mereka akan langsung melihatku seakan akan mereka akan menerkamku
seperti srigala yang sedang kelaparan.
~•••~
Hansol sudah menyelesaikan
pertandingan, dan teamnya lah yang
memenangkan pertandingannya. Karna pertandingannya sudah selesai maka
aku bergegas pergi meninggalkan lapangan.
Belum sempat pergi sebuah tangan
menggenggam tanganku. Ya, itu tangan hansol.
"Kau mau pergi
kemana?". Tanya hansol.
"Aku mau pulang".
Jawabku.
"Yak, kau tak ingin pulang
bersamaku ?".
"Bukannya kau harus berjumpa
dengan fansmu dulu?". Tunjuk kearah para fans yang sedang meneriaki
hansol.
"Yak, aku mohon tunggu lah
aku di tempat biasa aku akan menjemputmu ok, berjanjilah padaku".
"Baiklah, tapi kau jangan
terlalu lama, karna aku tak mau menunggumu ". Ucapku.
"Baiklah peri
cantikku". Hansol mencium puncak kepalaku dan pergi meninggalkanku berlari
ke arah team basket yang sedang dikerumuni para fans.
Aku berjalan menuju tempat
persembunyian kami berdua. Ya, dance room .
Berjalan menyusuri dance room
membuatku flashback, Tempat ini adalah dimana pertama kali aku bertemu dengan
hansol. Saat itu aku sedang menari seorang diri namun tiba tiba kakiku
mengalami cidera dan tidak bisa berjalan. Dan kebetulan sekali hansol lewat
dance room dan melihat kedalam ruangan ternyata ada aku yang sedang mencoba
untuk berdiri dari duduk apa daya aku tak sanggup untuk berdiri.
Hansol pun
melihatku yang terjatuh langsung berlari ke arahku dan segera membawa ku ke
klinik.
Terdengar suara pintu terbuka dan
benar saja ternyata hansol yang membuka pintu ruangan.
Berjalan menghampiriku .
"Mianhae chagi, sudah lama kah kau menungguku?". Membelai rambutku.
"Ah, aniyo aku baru saja
tiba, dan sedikit flashback dengan ruangan ini".
"Ah, aku jadi ingat saat
kita pertama kali berciuman disini". Ucap dengan Senyum nakal.
"Apa hanya itu saja yang
dapat kau ingat?". Mencubit pinggang namja kesayangannya.
"Aaww". Jerit hansol.
"Banyak sekali kenangan bersamamu tapi sangat berkesan diruangan ini ya,
saat kita pertama kali berciuman". Ucap hansol.
"Terserah kau saja, tapi
percaya lah aku selalu menyimpan dan ingat semua kenangan yang telah kita lalui
bersamamu". Ucapnya. Memeluk hansol dengan erat.
"Aku sama sepertimu,
walaupun aku punya banyak fans aku akan tetap mencintaimu". Membalas
pelukan kekasihnya itu dengan erat.
Hansol meregangkan pelukannya
lalu tangannya memegang daguku dan diangkatnya kepalaku lalu sebuah benda lunak
mendarat di bibirku. Ya, hansol menempelkan bibirnya ke bibirku dan aku pun
membalas ciuman itu.
Hembusan nafasnya dapat aku rasakan dan aroma air keringat
yang mengalir di tubuhnya dapat tercium melalui hidung ku. Ya, aroma gentleman
semerbak menusuk panca indra ku.
Lumayan lama kami berciuman. Aku
melepaskan ciumannya.
"Wae!!!". Tanya hansol.
"Yak, kau tak ingat kita
masih disekolah".
"Baiklah kita teruskan di
rumahku saja".
"Tidak mau". Aku
bergegas pergi meninggalkan hansol menuju pintu keluar.
"Ayoo lah sekali saja,
Yak!!! tunggu lah aku". Mencoba mengejarku.
Hansol tinggal seorang diri karna
keluarganya berada di amerika dan kakanya berada di luar kota.
Aku terkadang bermalam dirumahnya saat dia
sedang sakit atau dia sedang rindu padaku. Orang tua ku sudah mengenal hansol
jadi mereka percaya hansol tak akan berbuat jahat atau menyakitiku.
Setibanya
hansol merebahkan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Dan aku pun ikut duduk di sofa
itu.
"Apa kau sangat lelah
hansol-ya".
"Eoh, sedikit lelah karna
pertandingan tadi lawanya lumayan sulit jadi aku harus mengeluarkan tenagaku
dengan penuh, dan sekarang aku butuh energi tambahan".
Keluhnya dengan ekspresi anak
kecil yang sedang merengek pada eommanya.
"Bersih bersih lah, aku akan
menyiapkan makan malam untukmu sebelum aku pulang".
"Nanti saja, aku masih ingin
merebahkan tubuhku".
" eoh aniyo ppalli pergilah
ke kamar mandi sekarang". Suruhku. Dengan mengangkat kedua tangannya dan
menariknya.
Tapi baru setengah berdiri aku
terjatuh dan sekarang hansol tepat berada di atasku. Mata kami saling menatap satu
sama lain. Hansol menahan tangannya dibagian samping kiri dan kanan pada bagian
kepalaku.
Aku memang sangat memyukai Hembusan nafasnya yang dapat kurasakan
ingin rasanya cepat menikah dengannya agar aku bisa merasakannya setiap hari
dan setiap saat.
"Eoh sebaiknya kau segera
pergi ke kamar mandi, aku akan menyiapkan makan malammu". Ucapku
memecahkan keheningan.
Hansol berdiri dan bangun dari
posisinya yang berada di atas han yoo ra.
"Ne, masaklah yang
enak". Hansol pergi meninggalkan yoo ra.
PoV hansol
Han yoo ra adalah wanita yang
sangat sabar yang pernah aku kenal. Aku mengenalnya saat aku menolongnya di
dance room. Ya, kakinya terkilir dan dia tidak bisa berjalan maka aku
membawanya ke klinik sebrang sekolah. Kami memang satu sekolah tapi sebelumnya
aku tidak mengenal han yoo ra, karna dia adalah wanita yang pendiam dan cuek.
Aku menyukainya saat melihat dia menari betapa pandai dan lincah saat dia
menari. Dan aku putuskan untuk menyatakan padanya. Kenanganku sangat banyak
sekali dengannya dan semua itu akan ku simpan dalam memori otakku dan akanku
ingat selalu semua kenangan itu.
~~~••••~~~
hansol selesai membereskan diri
lalu menghampiri yoo ra yang sedang berkutat di dapur. Entah apa yang dia
masak, bagi hansol semua masakan yoo ra terasa enak.
Hansol berjalan pelan pelan lalu
melingkarkan tangannya pada pinggang yoo ra.
"Kau terlalu fokus, sampai sampai aku
berada di dekatmu kau tidak tahu".bisiknya.
"Omona, kau mengagetkan ku
saja". Yoora berbalik mengarah pada kekasihnya. Dan mengalungkan tangannya
keleher hansol.
"Apa yang kau masak?".
"Aku melihat ada sayuran di
lemari es dan ada ramyeon jadi aku gabungkan menjadi satu".
"Ah,cepatlah aku sudah tidak
sabar untuk makan masakanmu".
"Sebentar lagi juga akan
matang, tunggulah di meja makan".
Hansol pun berpindah dari dapur
ke meja makan.
"Selamat makan". Ucap
bersamaan.
"Wah enak sekali
masakanmu".
"Jinjja?".
Mengangguk sambil menyuap nasi
dan sayur ke dalam mulutnya.
Yoo ra tersenyum senang melihat
kekasihnya makan dengan lahap masakan yang dibuat olehnya.
"Terimakasih untuk makan
malamnya". Ucap bersamaan.
"Aku akan pulang setelah
mencuci piring".
"Harus kah kau pulang malam
ini?".
Yoo ra menganggukan kepalanya.
"Ne, karna sudah larut malam".
"Beristirahatlah di kamarku,
lagi pula hujan akan turun". Pintanya.
"Bagaimana eomma dan
appaku?".
"Aku sudah memberi tahu pada
mereka, bahwa kau terjebak hujan".
"Yak, kau ini mengapa tidak
mengatakkannya padaku?".
"Aku tahu pasti kau akan
menolaknya".
"Aish, kau ini".
Cemberutnya.
Benar saja, tak lama hujan turun
sangat deras dan keras nya suara petir menggelegar kesana kemari.
Yoo ra yang sudah berada di kamar
hansol duduk di atas ranjang dengan selimut menutupi dirinya.
Sedangkan hansol berbaring di
sofa ruang tamu dengan selimut yang tebal.
*dddduuuuuuaaaaaarrr* suara petir
membuat listrik menjadi padam, lalu yoo ra teriak memanggil nama hansol.
"Hansooooolll-ya". Yoora sangat takut gelap.
Hansol terbangun dan terkejut
saat melihat semua sudah gelap. Dia mencari ponselnya lalu menyalakan app lamp
di ponselnya untuk memberikan sedikit cahaya dan menyusul yoora dikamarnya.
"Yoora-ah, kau tidak apa
apa?".
"Hansoool-yaa aku sangat
takuut".
"Apa yang terjadii? Mengapa
semua gelap".
"Aku rasa ada yang konslet
pada listrik akibat hujan ini".
"Aahh aku benci gelap aku
benci petir". Gerutunya.
"Mengapa kau takut gelap yoora, padahal
saat gelap kau dapat melihat sesuatu yang hanya dapat dilihat saat gelap".
Yoora tidak peduli dengan
perkataan Hansol dan hansol hanya tertawa melihat wajah kekasihnya kesal
terhadap gelap dan petir.
"Baiklah aku akan menemanimu
tidur disini". Hansol berbaring di samping yoora. Dan yoora pun menyetujui
kekasihnya itu untuk tidur disamping yoora.
~~~••••~~~
Hujan deras semalam telah berlalu
dan pagi ini di gantikan dengan hangatnya sang mentari yang menyinari sela sela
jendela kamar.
Terlihat sepasang kekasih yang masih berselimut di atas tempat
tidur.
Yoora bersandar di dada bidang
hansol."hansol-ya, aku dapat mendengarkan detak jantungmu yang berdetak
seirama, aku sangat menyukainya". Gumam yoora. Yoora sudah terbangun
sebelum hansol.
Hansol terbangun dan mereka
saling berpandangan. Saling mengucapkan "Good morning". Ucap
bersamaan.
TO BE CONTINUE ...